Kali ini saya menulis note ini karena tergugah dengan melihat keadaan disekitar saya yang sedang heboh-hebohnya menggunakan media social networking di internet, diantaranya adalah Facebook, Friendster, Twitter, dan Plurk. Keempat social networking tersebut saat ini sepertinya sudah mendarah daging di kehidupan kita, hehehhe…..
Baru bangun langsung update kegiatan di Plurk buat laporan ke seluruh dunia, abis gempa langsung publish di Facebook segesit-gesitnya seolah-olah berasa jadi wartawan yang pengen nge-report ke temen-temen sepenanggungan yang tidak merasakan gempa, Dewi persik cerai…langsung gosipan di komentarnya Friendster, dan buat twitter baru khusus supaya bisa samaan sama pacar yang punya twitter juga….Dari situasi tersebut banyak hal positif yang kita dapatkan, salah satunya adalah informasi yang up to date yang gak kalah sama informasi di televisi bisa kita dapatkan.
Sisi negatifnya adalah terkadang kita lupa, lupa pada siapa kita berbicara. secara gak sadar atau tidak sadar kadang kita juga menuliksan kemarahan, kesedihan, dan segala emosi diri di media social networking ini. ambil contoh saja, misalnya baru dimarahin bos, karena gak bisa ngelawan, akhirnya ngamuk2nya di wall facebook. Ada yang marah secara langsung bahkan ada yang menggunakan bahasa isyarat kalo dia abis dimarahin. Yang berbahaya adalah disaat kita secara tidak sadar, sadar, sengaja, ataupun tidak sengaja megumpat atau berbicara yang tidak sopan.Dengan maksut hanya menumpahkan kemarahan, tanpa melihat perasaan orang yang dimarahi. Mungkin kita lupa, kalo segala omongan, kelakuan, pendapat yang terpublish di internet tidak hanya mesin saja yang mengtahuinya, justru manusia seantero dan sejagad raya dari segala belahan dunia dapat membacanya. Ujung2nya orang yang berbicara tersebut dituntut oleh sang bos, dan masuklah ke penjara.
Nah, hal itulah mengapa salah satu beretika di internet adalah “ingatlah bahwa anda berbicara di internet sama halnya saat anda sedang berbicara dengan manusia”. Etika berinternet ini sama halnya seperti kita beretika pada saat di dunia riil, berbicara sopan dan sesuai etika seperti kita berbicara dengan manusia sebagai mahluk sosial.
Komentar