​*Bagaimanakah Orang Tua Menjaga Anak Dari Kejahatan Seksual, Penculikan dan Semacamnya?*
——-
Ngeri ya kalo baca-baca berita sekarang ini. Betul-betul bikin khawatir dan was-was para orang tua. Mulai dari penculikan anak, penjualan organ tubuh anak bahkan sampai kasus pelecehan seksual terhadap anak.
Mungkin banyak orang tua yang telah mengajarkan kepada anak-anak mereka agar berhati-hati dengan orang asing, memberi wejangan ini itu atau bahkan ada yang sampai memberikan pengawal pribadi bagi sang anak.
Namun ada satu hal yang bisa jadi terluput dari para orang tua. Hal itu adalah ketakwaan dan kesholehan kedua orang tua sang anak.
Loh, emang ada hubungannya ya?
Sebentar dulu, mari kita simak Firman Allah berikut,
وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ 
Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu. [Surat Al-Kahfi : 82]
Pada kisah di atas, Allah menceritakan bahwasanya Dia menjaga kedua anak yatim karena kesholehan ayahnya meskipun ayah mereka tersebut telah tiada.
Lihatlah, ternyata kesholehan orang tua merupakan penyebab terjaganya seorang anak di dunia.
Syeikh As-Sa’di dalam tafsirnya juga menjelaskan bahwa “Sesungguhnya Allah akan menjaga seorang hamba yang sholeh dan juga keturunannya.”
Nah, apabila kita ingin agar anak-anak kita dijaga oleh Allah dari hal-hal buruk di atas tadi, mengapa kita tidak mulai berubah, mensholehkan diri kita?
Jika kita betul-betul mencintai anak-anak kita, maka sudah seharusnya kita ini menjadi orang tua yang bertakwa dan sholeh demi terjaganya mereka.
Sungguh mengherankan seandainya ada orang tua yang bisa berkata saat anaknya sakit,
“Biar saya aja yang sakit, jangan anak saya.”
Namun untuk menjadi hamba yang sholeh, yang bertakwa demi kebaikannya dan juga anaknya, agar ia dan anaknya dijaga Allah, ia tidak bisa.
Ia sanggup bersabar, menahan rasa sakit demi anak, namun tak sanggup bersabar dalam menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.
Penjagaan siapa lagikah yang bisa diharapkan untuk anak-anak kita selain penjagaan Allah?
*@TanesiaB*

​🌍 BimbinganIslam.com

Sabtu, 25 Rabi’ul Awwal 1438 H / 24 Desember 2016 M

👤 Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc

📔 Materi Tematik | Niat Baik Semata Tidaklah Cukup

⬇ Download audio: bit.ly/BiAS-Tmk-NZ-NiatBaik

🌐 Sumber: https://youtu.be/ulToOr3qsR0

———————————–
NIAT BAIK SEMATA TIDAKLAH CUKUP

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، و على آله و صحبه ومن وله و بعة

Saudaraku yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Bagaimana menurut kita jika ada seseorang yang membangun rumah hanya bermodalkan niat baik saja?
Dia tidak mengerti bangunan dan dia tidak mengerti teori membangun rumah, apakah dia akan berhasil membangun rumah yang baik dan nyaman serta kokoh? 
Saya rasa jawabannya: tidak.
Lalu bagaimana apabila ada seseorang yang ingin menyetir mobil manual hanya bermodalkan niat baik saja?
Dia tidak mengerti bagaimana menselaraskan antara pedal kopling dan pedal gas, hanya bermodalkan niat baik, apakah dia bisa mengendarai mobil manual tersebut? 
Saya rasa jawabannya pun: tidak.
Atau ada seorang wanita(seorang ibu-ibu) yang ingin memasak rendang tapi dia tidak tau resepnya, dia hanya bermodalkan niat baik saja. Kira-kira bisa tidak dia memasak rendang yang enak dan memiliki cita rasa yang tinggi? 
Jawabannya lagi-lagi: tidak. 
Kalau demikian bagaimana dengan ibadah kita? 
Bagaimana dengan agama kita? 
Bagaimana dengan shalāt kita, puasa kita, dzikir kita, sholawat kita, istigotsah kita, isti’anah kita dan ibadah-ibadah yang lain? 
Mungkinkah akan berhasil mencapai sukses di dunia dan di akhirat hanya bermodalkan niat baik? 
Maka jawab dengan jawaban yang sama dengan sebelumnya: tidak.
Nabi bersabda dalam hadits Muslim nomor 1718:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
_“Barangsiapa yang mengerjakan amal ibadah yang tidak pernah kami contohan (kami ajarkan, kami terangkan, kami syari’atkan), maka amal ibadah tersebut tertolak.”_
Barangsiapa yang mengerjakan shalāt hanya mengandalkan niat baik, dia tidak tau bagaimana cara sujud, bagaimana cara ruku’, bagaimana cara i’tidal, apa yang dibaca dia nggak ngerti, harus membaca Al Fatihah, maka shalātnya tidak diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Orang yang puasa tapi nggak ngerti sifat puasa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam maka puasanya dikhawatirkan tidak diterima oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
“Barangsiapa yang mengerjakan amal ibadah yang tidak pernah kami contohkan, kami syari’atkan, kami tuntunkan maka amal ibadah tersebut tertolak.”
Dan ini konsep, ibadah tidak cukup hanya dengan niat baik, ibadah adalah sebuah aktifitas dimana kita harus mensinergikan, menselaraskan antara niat ikhlas, niat baik dengan cara yang sesuai dengan tuntunan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Kalau tidak, maka amal ibadah tersebut dikhawatirkan tertolak. 
Makanya imam besar kita yang sangat karismatik, panutan kita, Al Imam Asy Syafi’I rahimahullāhu ta’āla, beliau pernah mengatakan:
من استحسن فقد شرع
_“Barangsiapa yang mengerjakan amal ibadah hanya bermodalkan niat baik saja maka dia baru saja membuat syari’at baru.”_
Ini hal yang berat dan ini teguran keras dari Al Imam Asy Syafi’I rahimahullāhu ta’āla.
Kenapa demikian? 
Karena saat Allāh tidak perintahkan kita shalāt pada waktu tersebut tapi kita shalāt pada waktu tersebut. 
Perhatikan! 
Ini membuat syari’at baru, ini bukan kesalahan yang remeh, ini bukan kesalahan yang kecil
Oleh karena itu marilah kita mengikhlaskan diri kita, kita berniat yang baik dan selanjutnya ikutilah tuntunan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Dan saudaraku yang di rahmati oleh Allāh, kalau setiap kita hanya mengandalkan niat baik saja maka dikhawatirkan semua kemaksiatan menjadi boleh dan legal karena banyak orang yang ketika bermaksiat niatnya baik.
Apa niat koruptor ketika mengkorupsi uang Negara? 
Ya niatnya baik, memberikan nafkah kepada anak dan istri, bukankah memberikan nafkah kepada anak dan istri niat baik? 
Apa niat seorang anak muda yang memakai obat-obat terlarang? 
Ternyata banyak diantara mereka niatnya baik ingin menyelesaikan dan keluar dari masalah-masalah kehidupan mereka. Bukankah menyelesaikan dan keluar dari masalah sebuah niat yang baik?
Saudaraku yang dirahmati oleh Allāh.
Dari sini kita sepakat bahwa niat baik saja tidak cukup. Niat baik harus dipadukan dengan cara yang sesuai dengan Nabi kita shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ  

__________________________ 
◆ Mari bersama mengambil peran dalam dakwah…

Dengan menjadi Donatur Rutin Program Dakwah Cinta Sedekah
⑴ Pembangunan dan Pengembangan Rumah Tahfizh 

⑵ Support Radio Dakwah dan Artivisi

⑶ Membantu Pondok Pesantren Ahlu Sunnah Wal Jama’ah di Indonesia
📝 Silakan mendaftar di : 

http://cintasedekah.org/ayo-donasi/
*Hidup Berkah dengan Cinta Sedekah*

🌎www.cintasedekah.org

👥 https://web.facebook.com/gerakancintasedekah/

📺 youtu.be/P8zYPGrLy5Q

—————————————–
📎 Kuis pekan ini klik http://kuis.bimbinganislam.com/
📎Petunjuk http://bit.ly/InfoKuisPekananBIAS
➖➖➖➖➖➖➖